Renungan Kamis, 23 Oktober 2025
Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;
barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.
Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.
Dalam pasal ini dituliskan mengenai :
1.Kasih Allah dalam mengangkat orang percaya sebagai anak dan menegaskan pentingnya kekudusan serta menentang dosa (ayat 1-10).
2.Pentingnya kasih persaudaraan (ayat 11-18).
3.Perintah untuk percaya taat kepada Allah (ayat 19-24).
Dengan sangat keras dijelaskan perbandingan antara orang yang sudah sungguh-sungguh lahir baru dan yang belum sungguh-sungguh lahir baru.
Mereka yang sudah sungguh-sungguh lahir baru akan hidup dengam saleh (berusaha hidup benar), mereka yang belum sungguh-sungguh lahir baru masih hidup didalam dosa (terus menerus dan tetap berbuat dosa).
Kata berbuat dosa pada ayat 9 menunjukkan tindakan yang terus dan tetap berlangsung.
Penekanan dalam konteks perikop ini adalah orang yang sungguh-sungguh dilahirkan kembali dari Allah tidak mungkin mempunyai cara hidup yang berdosa karena hidup Allah tidak dapat hadir di dalam mereka yang berbuat dosa.
Pelajaran yang dapat kita ambil :
Kelahiran baru menghasilkan kehidupan secara moral dan rohani/spiritual yang mendatangkan hubungan berkesinambungan/terus berlanjut/tidak terputus dengan Allah.
Orang beriman bisa kadang-kadang gagal untuk memenuhi standar Allah yang tinggi, tetapi mereka tidak terus-menerus hidup dalam dosa.
Waktu kita masih hidup dalam manusia lama kita atau belum bertobat, kita gampang berbuat dosa dan sulit untuk berbuat baik sesuai kehendak Allah, setelah kita bertobat dan dilahirkan kembali serta hidup sebagai manusia baru, semestinya kita sulit untuk berbuat dosa yang adalah bukan kehendak Allah dan mudah untuk berbuat baik sesuai dengan kehendak Allah.
TUHAN menyertai kita semua